dblindonesia.com | 21-Feb-2010
Meski Heboh, Kompetisi di Manado Terganjal Fasilitas
MANADO — Tiga tahun sudah Honda Development Basketball League (DBL) dilaksanakan di Sulawesi Utara. Namun, tahun ini, penyelenggaraan dianggap manis pahit bagi DBL Indonesia, penyelenggara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia tersebut. Manis karena antusiasme anak mudanya termasuk paling dahsyat di Indonesia. Terbukti, sekira 20 ribu penonton menyaksikan even ini di GOR Hall B Wolter Mongisidi KONI Sario Manado sejak 12 Februari lalu. Pahit, karena pertumbuhan dan masa depan kompetisi terganjal oleh fasilitas.
Gedung di tengah Kota Manado itu dianggap terburuk di Indonesia, dan tahun depan sudah terancam tak bisa digunakan. “Ketika Honda DBL kali pertama diselenggarakan di Manado pada 2008, even ini menjadi even indoor pertama di Manado setelah 12 tahun. Pada 2009, jumlah penonton melonjak 81 persen, menjadikan Manado salah satu kota terbesar Honda DBL di Indonesia,” tutur Azrul Ananda, commissioner DBL yang setiap tahun menyaksikan final di Manado. Sayang, lanjut Azrul, sejak tahun lalu, DBL Indonesia dan Manado Post (Jawa Pos Group) sebagai partner penyelenggara, sudah sadar kalau kompetisi bakal sulit tumbuh. Pertama, karena kapasitas gedung yang memang hanya bisa menampung sekira 1.300 orang. Belum lagi soal kondisi gedung yang sangat mengkhawatirkan.
Pihak DBL Indonesia khawatir, bila masalah fasilitas ini tidak segera diperhatikan, maka tahun depan kompetisi terancam tidak bisa diselenggarakan di Manado. Hasil final kemarin, tim putri SMA Eben Haezar Manado berhasil menjadi juara tiga tahun berturut-turut, menang ketat 30-26 atas SMAN 1 Manado. Sedangkan tim putra SMA Lokon Tomohon menjadi champion putra, juga menang ketat atas Eben Haezar 41-37. Di kategori putra, selama tiga tahun penyelenggaraan, selalu muncul juara yang berbeda. Buka Pendaftaran Sementara itu, Honda DBL 2010 South Sulawesi Series yang akan digelar GOR Sudiang Makassar, 10 hingga 17 April, pendaftaran peserta sudah dibuka mulai Sabtu, 20 Februari.
Di tahun ketiga ini, minat peserta semakin sulit dibendung. Buktinya, di hari pertama, tiga sekolah bahkan sudah mengembalikan berkas. SMAN 1 Pinrang tercatat sebagai tim pertama yang mengembalikan, disusul SMAN 10 Makassar, SMA Katolik Rajawali (Kara). Mereka sadar, kuota yang terbatas membuat persaingan menjadi peserta sangat ketat. “Seperti tahun lalu, kami selalu mencoba memaksimalkan hari pertama pendaftaran. Ini membuktikan keseriusan kami tampil di DBL,” ujar Yamin Mattotoran, pelatih Kara yang tahun lalu tampil sebagai juara putri. (yuk-jpnn)
Gedung di tengah Kota Manado itu dianggap terburuk di Indonesia, dan tahun depan sudah terancam tak bisa digunakan. “Ketika Honda DBL kali pertama diselenggarakan di Manado pada 2008, even ini menjadi even indoor pertama di Manado setelah 12 tahun. Pada 2009, jumlah penonton melonjak 81 persen, menjadikan Manado salah satu kota terbesar Honda DBL di Indonesia,” tutur Azrul Ananda, commissioner DBL yang setiap tahun menyaksikan final di Manado. Sayang, lanjut Azrul, sejak tahun lalu, DBL Indonesia dan Manado Post (Jawa Pos Group) sebagai partner penyelenggara, sudah sadar kalau kompetisi bakal sulit tumbuh. Pertama, karena kapasitas gedung yang memang hanya bisa menampung sekira 1.300 orang. Belum lagi soal kondisi gedung yang sangat mengkhawatirkan.
Pihak DBL Indonesia khawatir, bila masalah fasilitas ini tidak segera diperhatikan, maka tahun depan kompetisi terancam tidak bisa diselenggarakan di Manado. Hasil final kemarin, tim putri SMA Eben Haezar Manado berhasil menjadi juara tiga tahun berturut-turut, menang ketat 30-26 atas SMAN 1 Manado. Sedangkan tim putra SMA Lokon Tomohon menjadi champion putra, juga menang ketat atas Eben Haezar 41-37. Di kategori putra, selama tiga tahun penyelenggaraan, selalu muncul juara yang berbeda. Buka Pendaftaran Sementara itu, Honda DBL 2010 South Sulawesi Series yang akan digelar GOR Sudiang Makassar, 10 hingga 17 April, pendaftaran peserta sudah dibuka mulai Sabtu, 20 Februari.
Di tahun ketiga ini, minat peserta semakin sulit dibendung. Buktinya, di hari pertama, tiga sekolah bahkan sudah mengembalikan berkas. SMAN 1 Pinrang tercatat sebagai tim pertama yang mengembalikan, disusul SMAN 10 Makassar, SMA Katolik Rajawali (Kara). Mereka sadar, kuota yang terbatas membuat persaingan menjadi peserta sangat ketat. “Seperti tahun lalu, kami selalu mencoba memaksimalkan hari pertama pendaftaran. Ini membuktikan keseriusan kami tampil di DBL,” ujar Yamin Mattotoran, pelatih Kara yang tahun lalu tampil sebagai juara putri. (yuk-jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar