dblindonesia.com | 20-Des-2011
Bertandang ke Arena Basket University of Washington, Almamater Nate Robinson
Masuk Ruang Locker Harus Pakai Sidik Jari
Saat di Seattle, tim DBL Indonesia All-Star 2011 sempat mampir ke markas tim basket University of Washington, almamater beberapa bintang NBA, seperti Nate Robinson. Tak disangka fasilitas basket kampus bisa sehebat itu.Sepekan di Seattle, Amerika Serikat, tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2011 jelas mendapat pengalaman tak terlupakan. Para pemain SMA pilihan dari berbagai penjuru tanah air itu tak hanya bertanding melawan tim-tim muda negara bagian Washington. Mereka juga bisa merasakan bagaimana menjadi anak SMA di sana. Masuk kelas dan belajar di beberapa high school.
Tapi, salah satu pengalaman yang paling membuka mata mungkin didapat pada hari terakhir. Minggu pagi (6/11), sebelum kembali ke Indonesia, 24 pemain (putra dan putri) plus empat pelatih mampir ke Alaska Airlines Arena. Surabaya-Seattle Sister City Association (SSSCA), partner DBL Indonesia di Seattle, telah menyiapkan tur ini secara khusus.
Gedung itu merupakan markas tim basket putra dan putri University of Washington (UW, dijuluki "YuDab"). Kampus paling kondang di negara bagian Washington itu merupakan salah satu anggota liga perguruan tinggi NCAA Divisi I di AS. Tim itu berjuluk Washington Huskies (Husky adalah semacam serigala).
Sejumlah bintang NBA lahir dari sana. Total 23 pemain NBA kuliah di sana, termasuk tujuh pemain dalam sepuluh tahun terakhir. Dua di antaranya punya nama sangat besar. Yaitu, NBA All-Star Brandon Roy (Portland Trail Blazers) dan juara tiga kali NBA Slam-Dunk Contest Nate Robinson (Oklahoma City Thunder).
Bagi para pemain DBL Indonesia All-Star 2011, Robinson merupakan sosok yang sangat akrab. Juli lalu "Krypto-Nate" datang ke Indonesia, melatih mereka saat DBL Camp 2011 di Surabaya. Ketika mereka berlatih dan bertanding di Seattle pun, Robinson, 27, menyempatkan mampir untuk menonton dan memberikan dukungan.
Sekarang anak-anak DBL All-Star mendapat kesempatan menengok gedung tempat Robinson bermain ketika masih kuliah di UW. Pengalaman ini benar-benar membuka mata mereka. Tidak mereka sangka, fasilitas pemain basket kampus bisa semewah itu.
"Kalau tidak ikut rombongan DBL All-Star, mungkin tidak dapat kesempatan seperti ini. Turis biasa pasti diusir," kata Laurentius Steven, pemain asal SMA St. Louis 1 Surabaya.
***
Alaska Airlines Arena berada di kompleks olahraga yang agak terpisah dari kampus utama UW di Seattle. Letaknya bersebelahan dengan Husky Stadium, stadion American football universitas.
Ketika rombongan DBL All-Star datang Minggu pagi lalu (6/11), suasana agak "berantakan." Sampah masih bertebaran, beberapa staf membersihkannya. Maklum, malam sebelumnya ada big match, pertandingan football antara UW melawan Oregon Ducks dari University of Oregon.
Begitu tiba, DBL All-Star disambut Kegan Bone, salah satu asisten pelatih UW. Dia yang menjadi guide di arena. Hanya beberapa orang punya akses komplet, karena banyak ruang khusus di sana yang harus diakses dengan sistem sidik jari. "Ini kunci khusus," katanya sambil menunjukkan jempol tangan kanan.
Tempat pertama yang ditunjukkan adalah lapangan utama. Berkapasitas "hanya" 10 ribu orang, Bone menjelaskan bahwa Alaska Airlines Arena merupakan salah satu yang terkecil di NCAA Divisi I. Sudah tua, dibangun sekitar 1930. Renovasi terakhir sekitar 15 tahun lalu. Meski demikian, arena ini komplet dengan layar empat sisi yang menggantung di tengah.
Di satu sisi, ada tribun khusus mahasiswa UW. Kapasitasnya hanya 1.000 orang, tapi letaknya tepat di belakang bench tuan rumah dan lawan.
"Ini khusus untuk pelajar di sini. Tiketnya supermurah. Kalau penonton umum bisa membayar sampai USD 120 per tiket (sekitar Rp 1 juta, Red), tribun khusus pelajar ini hanya USD 10 per tiket. Tentu sulit mendapatkannya. Student kadang harus berkemah antre di depan arena untuk mendapat jatah. Kalau tak dapat, mereka harus beli tiket umum," ungkap Bone.
Dia lantas mengeluarkan sebuah rak bola. Ya, anak-anak DBL All-Star diperbolehkan bermain-main di lapangan utama. Mereka bebas menembakkan bola. Selama beberapa menit merasakan jadi pemain NCAA Divisi I.
Seusai foto grup, mereka juga sempat foto-foto santai. Termasuk tidur-tiduran di tengah lapangan!
Puas di lapangan, tur berlanjut. Bone mengajak DBL All-Star ke ruang video pemain. Semula semua mengira itu ruang meeting biasa. Ternyata, itu sebuah "bioskop" mini khusus pemain.
Para pemain duduk rapi di kursi berjenjang ala bioskop, menghadap layar besar di tembok. Di sekelilingnya, banyak foto mantan bintang UW yang masuk NBA dipajang.
Di ruang inilah, sehari sebelum dan sesudah game pemain berkumpul. Tim pelatih menganalisis permainan lawan, juga mengevaluasi pemain sendiri. "Di sini pemain paling sering dimarahi. Karena video tidak bisa berbohong," tegas Bone, yang salah satu tugasnya adalah menyiapkan dan menganalisis video pertandingan.
Melihat ruang video itu, head coach tim putri DBL All-Star Xaverius Wiwit Agus Cahyono geleng-geleng kepala. 'Saya sebagai pelatih akan gembira sekali jika mendapat ruang seperti ini. Pasti tim saya terus mengalami progres bagus. Sebab, jadwal evaluasi sudah fixed sekali. Ruang ini juga ideal sekali dalam melakukan analisis,' ujar pelatih asal SMA Tri Tunggal Semarang tersebut.
Puas dengan ruang video, Bone mengajak tim DBL All-Star ke locker pemain. Setting gambar di tembok sepanjang koridor sangat keren. Foto-foto pemain bertebaran di sana. Termasuk foto Nate Robinson dan Brandon Roy. Potret momen-momen penting Huskies juga ada. Banyak pula kutipan dan kata-kata pemacu semangat.
Seperti locker NBA, setiap pemain mendapat ruang lemari sendiri. Pagi itu tampak perlengkapan bertebaran. Jumat malam sebelumnya (4/11), ruang ini memang dipakai karena ada pertandingan. "Setiap pemain dapat jatah sekitar sepuluh pasang sepatu setiap musim. Kalau butuh lebih, juga tersedia," jelas Bone.
Para pemain pun terbengong-bengong. "Ini keren. Untuk level universitas saja seperti ini. Apalagi, di NBA. Datang ke locker ini bikin saya merinding," tambah Laurentius Steven.
Tidak cukup ruang locker yang keren. Di sebelahnya ada lagi lounge khusus tempat pemain bersantai dan nongkrong.
Di ruang itu ada beberapa sofa ungu (warna khas tim), selimut ungu, dan perlengkapan makan lengkap. Ada pula layar lebar tempat pemain bisa nonton video dan bermain game.
Menurut Bone, anak-anak asuhan head coach Lorenzo Romar itu suka berkumpul di lounge ini kalau sedang tidak ada jadwal kuliah. Kadang mereka hanya tidur-tiduran.
Nate Robinson sendiri mengaku suka sekali nongkrong di Alaska Airlines Arena. "Selain di situ, saya paling suka pergi makan ke HUB, tak jauh dari situ," ucapnya kepada harian ini secara terpisah.
HUB yang dimaksud adalah Husky Union Building, tempat mahasiswa nongkrong dan makan. Kata "hub" sendiri bisa diartikan penghubung.
Bone menegaskan, kebanyakan universitas peserta NCAA Divisi I punya fasilitas seperti ini. Bahkan, beberapa sekolah punya fasilitas jauh lebih baik.
Cukup sampai di situ? Tidak. Ternyata, ada beberapa lapangan basket tambahan lagi di sekeliling arena. Lapangan utama hanya dipakai untuk pertandingan. Saat berlatih, ada tiga lapangan lagi yang bisa dipakai. Dua di satu tempat di bagian timur gedung, satu lagi di bagian utara.
Pertanyaan-pertanyaan pun disampaikan rombongan. Khususnya tentang cara menjadi student athlete di UW. "Ada 15 pemain di tim putra UW. Tiga belas adalah penerima beasiswa. Dua lainnya masuk melalui jalan tryout. Biasanya pelatih mengundang beberapa pemain yang dianggap mampu, lalu mereka diminta menjalani tes," terang Bone.
Cassiopeia Manuputty, pemain asal UPH College Tangerang, menanyakan soal kebutuhan nilai. Kata Bone, pemain harus punya nilai grade point average (GPA alias indeks prestasi) minimal 3,0 saat SMA untuk bisa bermain di UW. Untuk siswa biasa, syarat mininumnya sama. Tapi, karena ini termasuk kampus papan atas, biasanya kalau punya nilai 3,7 baru bisa diterima.
Kemudian, selama di tim, pemain harus mampu menjaga GPA minimum 2,0. Kalau di bawah itu, mereka tak boleh bermain sampai berhasil memperbaiki nilai. "Ini sudah menjadi kebijakan kampus. Kalau nilai turun, mereka harus berusaha menaikkannya lagi," tegas Bone, 23, yang mengaku serius meniti karir sebagai pelatih basket.
Agar nilai terjaga, lanjutnya, para pemain memilih jurusan yang menurut mereka paling "nyaman." Sebab, sehari mereka harus berlatih dua kali. Pagi dan sore. Kebanyakan pemain memilih jurusan sosiologi. "Seperti studi Afrika-Amerika. Hampir tidak ada pemain yang mengambil jurusan seperti fisika, kimia, atau biologi," ungkap Bone lantas tersenyum.
Terus-menerus rombongan DBL All-Star geleng-geleng kepala. "Sebelum ini kami sudah mengunjungi fasilitas latihan beberapa SMA di Seattle. Itu saja sudah membuat kami kagum. Ternyata tingkat universitas lebih dahsyat lagi. Saya nggak tahu kapan sekolah dan kampus di Indonesia bisa seperti ini. Betul-betul membuka mata saya," kata Inggrid Tri Rachmadianty, kapten tim putri asal SMAN 1 Baleendah, Bandung. (*)
Story Provided by Jawa Pos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar